Total Pengunjung Blog
counter widget orang

Share/Bagikan Laman

KELUARGAKU, KELUARGA KIRIMAN TUHAN DARI SURGA (30/01/13)


“Kamu saya pecat!”. Kata-kata itu terus berdengung di telingaku sejak beberapa hari yang lalu. Ya, sejak tiga hari yang lalu, setelah cangkir yang aku bawa bergeser dan jatuh di atas lembaran-lembaran dokumen yang tersusun rapi di atas sebuah meja yang ada di ruang rapat sebuah perusahaan besar di Jakarta.
Setelah kejadian itu, aku menjadi sangat tak bergairah melakukan aktivitas apapun. Aku takut, aku takut jika semua yang aku lakukan akan berakhir menjadi sebuah kesalahan seperti kejadian itu, tetapi yang selalu mengganggu fikiranku adalah, “Apa sebesar itu kesalahanku?” Padahal bagian dari dokumen yang tersiram kopi hanyalah di bagian ujung kertas dan tidak sampai pada kertas yang tersusun rapi di dalamnya. Padahal mereka bisa mencetak ulang dokumen itu. Lagipula aku yakin, pasti masih ada datanya di komputer atau laptop milik direktur tersebut, karena tidak mungkin dokumen sepenting itu tidak ada file cadangannya.
***
“Rizal, cepat ke sini. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, Sayang. Kamu sudah tidak makan sejak tadi malam.” suara merdu itu kembali memanggilku dari lamunanku. Aku keluar dari kamar dan segera beranjak ke ruang makan sambil tertunduk tanpa berbicara sedikitpun.
“Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu kamu fikirkan. Lebih baik sekarang kamu makan agar segar kembali. Lalu setelah itu, aku akan mengantarmu ke rumah pamanku. Aku dengar dia sedang membutuhkan seorang pegawai untuk bekerja di perusahaannya yang ada di Semarang.” ucap istriku lagi. Ya, wanita bernama Amel itu resmi menjadi istriku sejak tiga bulan yang lalu. Meski usianya masih sangat muda, tetapi fikirannya sangat dewasa, itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Sesulit apapun masalah yang kami hadapi, dia selalu memberikan aku semangat.
Setelah kami selesai sarapan, aku dan istriku segera berganti pakaian. Setelah itu aku langsung memacu Jupiter MX hitamku menuju ke rumah pamannya Amel di sebuah kompleks perumahaan elite di pinggiran kota Jakarta. Selama di perjalanan, aku hanya diam, sedangkan Amel sibuk berbicara di telpon dengan pamannya.
Setelah sampai, Amel langsung menekan tombol yang ada di sebelah kanan pagar besar itu. Lalu terlihat seorang satpam berlari keluar dari pos yang yang berada tak jauh dari pagar itu dan langsung membuka kunci pagar tersebut sambil mengucapkan salam pada Amel.
“Selamat pagi, Non Amel, lama tidak berkunjung ke sini. Silakan masuk, Non. Tuan sudah menunggu Non di dalam.” ucap satpam itu pada istriku dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Kami pun langsung menuju pintu yang kelihatannya sudah terbuka sejak tadi.
“Paman.”
“Amel, silakan masuk.” orang bertubuh besar itu menyuruh kami masuk dan mempersilakan kami duduk di sofa yang terdapat di ruang tengah tersebut.
“Oh, jadi ini yang namanya Rizal. Maaf saya tidak menghadiri acara pernikahan kalian, saya sedang menghadiri acara peresmian kantor baru yang ada di Semarang. Rizal, dari wajahnya saja sudah terlihat bahwa dia adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Sebenarnya bukan salahmu jika kamu menumpahkan minuman itu di dokumen tersebut, tetapi salah orang yang memberimu pekerjaan. Seorang sarjana Manajemen yang berprestasi sepertimu tak pantas bekerja sebagai Office Boy.” ucapnya, yang jelas saja membuat aku kaget, karena dia mengetahui semuanya.
“Hah? Paman tahu semuanya?” tanyaku heran.
“Ya, Amel yang menceritakan semua pada paman. Tapi tak apalah. Karena dengan semua info itu, paman sudah tahu, di mana sebenarnya kamu pantas di tempatkan. Jadi, mulai minggu depan kamu dan Amel akan paman pindah ke Semarang. Masalah tempat tinggal sudah paman urus. Rumah kalian yang di sini, biarlah keponakanmu yang menempatinya. Kebetulan dia masuk di UI, jadi dia membutuhkan tempat tinggal. Bagaimana?”
“Baiklah paman. Terima kasih untuk semuanya.” jawabku singkat.
“Iya, sama-sama. Hmm, apa kamu tidak penasaran dengan pekerjaan apa yang akan paman berikan padamu?”
“Tidak, paman. Kalau saya, terserah saja, yang penting halal untuk keluarga saya.” jawabku sambil tersenyum pada paman.
“Yayaya, pemikiran yang sangat bijaksana. Tidak rugi kamu memilihnya sebagai suamimu, Amel.” ucap paman sambil tersenyum pada Amel.
“Hmm, baiklah, paman. Kami permisi dulu, kami mau mempersiapkan barang-yang yang akan kami bawa ke Semarang nanti.” ucap Amel pada paman.
“Ya,  kebetulan paman juga sebentar lagi akan pergi ke kamtor, karena ada rapat.” jawab paman.
Kami pun pulang untuk membereskan semua barang-barang yang akan kami bawa ke Semarang nantinya. Selama perjalanan pulang, kami hanya diam tanpa berbicara sedikitpun.
***
Dua minggu sudah berlalu sejak aku menduduki jabatan sebagai direktur utama di perusahaan milik paman. Selama du minggu ini pun aku tidak pernah mengalami hambatan dalam pekerjaan.
“Bagaimana? Mudah, bukan? Inilah yang seharusnya kamu lakukan sejak awal. Tak ada cangkir, tak ada sendok, tak ada gula, tak ada kopi. Semua itu bukanlah peralatan yang seharusnya kamu pegang. Benda-benda inilah yang seharusnya berada di hadapanmu. Ya kan?” ucap paman sambil menunjuk komputer dan kertas-kertas yang berada di atas meja kerjaku.
“Iya, paman. Terima kasih atas bantuannya, paman.” ucapku berterima kasih pada paman.
“Ya, memang sulit mancari pekerjaan dengan bidang kita saat ini, apalagi di kota besar seperti Jakarta.” ucap paman sambil tersenyum padaku.
Setelah kami berbincang-bincang kurang lebih setengah jam, paman pamit pulang padaku. Aku juga bersiap-siap keluar kantor untuk menghadiri rapat di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kami.
***
Satu tahun kemudian anak pertamaku lahir. Aku pun tidak terbebani masalah biaya perawatan dan biaya sekolahnya beberapa tahun ke depan, karena penghasilan dari pekerjaanku yang sekarang dapat menjamin semua itu.
Sejak saat itu, kehidupanku menjadi sangat indah, tak pernah ada masalah besar yang menimpa keluarga kami, masalah kecil pun dapat kami hadapi dan selesaikan dengan ketabahan dan bantuan dari anggota keluarga yang lain. Terlebih lagi dengan lahirnya buah hatiku, menambah nuansa damai dan keceriaan di dalam rumah kami.

SHARE/BAGIKAN