“Kamu
saya pecat!”. Kata-kata itu terus berdengung di telingaku sejak beberapa hari
yang lalu. Ya, sejak tiga hari yang lalu, setelah cangkir yang aku bawa
bergeser dan jatuh di atas lembaran-lembaran dokumen yang tersusun rapi di atas
sebuah meja yang ada di ruang rapat sebuah perusahaan besar di Jakarta.
Setelah
kejadian itu, aku menjadi sangat tak bergairah melakukan aktivitas apapun. Aku
takut, aku takut jika semua yang aku lakukan akan berakhir menjadi sebuah
kesalahan seperti kejadian itu, tetapi yang selalu mengganggu fikiranku adalah,
“Apa sebesar itu kesalahanku?” Padahal bagian dari dokumen yang tersiram kopi
hanyalah di bagian ujung kertas dan tidak sampai pada kertas yang tersusun rapi
di dalamnya. Padahal mereka bisa mencetak ulang dokumen itu. Lagipula aku
yakin, pasti masih ada datanya di komputer atau laptop milik direktur tersebut, karena tidak mungkin dokumen
sepenting itu tidak ada file
cadangannya.
***
“Rizal,
cepat ke sini. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, Sayang. Kamu sudah tidak
makan sejak tadi malam.” suara merdu itu kembali memanggilku dari lamunanku.
Aku keluar dari kamar dan segera beranjak ke ruang makan sambil tertunduk tanpa
berbicara sedikitpun.
“Sudahlah,
Sayang. Jangan terlalu kamu fikirkan. Lebih baik sekarang kamu makan agar segar
kembali. Lalu setelah itu, aku akan mengantarmu ke rumah pamanku. Aku dengar
dia sedang membutuhkan seorang pegawai untuk bekerja di perusahaannya yang ada
di Semarang.” ucap istriku lagi. Ya, wanita bernama Amel itu resmi menjadi
istriku sejak tiga bulan yang lalu. Meski usianya masih sangat muda, tetapi
fikirannya sangat dewasa, itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Sesulit
apapun masalah yang kami hadapi, dia selalu memberikan aku semangat.
Setelah
kami selesai sarapan, aku dan istriku segera berganti pakaian. Setelah itu aku
langsung memacu Jupiter MX hitamku menuju ke rumah pamannya Amel di sebuah
kompleks perumahaan elite di
pinggiran kota Jakarta. Selama di perjalanan, aku hanya diam, sedangkan Amel
sibuk berbicara di telpon dengan pamannya.
Setelah
sampai, Amel langsung menekan tombol yang ada di sebelah kanan pagar besar itu.
Lalu terlihat seorang satpam berlari keluar dari pos yang yang berada tak jauh
dari pagar itu dan langsung membuka kunci pagar tersebut sambil mengucapkan
salam pada Amel.
“Selamat
pagi, Non Amel, lama tidak berkunjung ke sini. Silakan masuk, Non. Tuan sudah
menunggu Non di dalam.” ucap satpam itu pada istriku dengan sedikit membungkukkan
tubuhnya. Kami pun langsung menuju pintu yang kelihatannya sudah terbuka sejak
tadi.
“Paman.”
“Amel,
silakan masuk.” orang bertubuh besar itu menyuruh kami masuk dan mempersilakan
kami duduk di sofa yang terdapat di ruang tengah tersebut.
“Oh,
jadi ini yang namanya Rizal. Maaf saya tidak menghadiri acara pernikahan
kalian, saya sedang menghadiri acara peresmian kantor baru yang ada di
Semarang. Rizal, dari wajahnya saja sudah terlihat bahwa dia adalah seorang
yang cerdas dan berpendidikan. Sebenarnya bukan salahmu jika kamu menumpahkan
minuman itu di dokumen tersebut, tetapi salah orang yang memberimu pekerjaan.
Seorang sarjana Manajemen yang berprestasi sepertimu tak pantas bekerja sebagai
Office Boy.” ucapnya, yang jelas saja membuat aku kaget, karena dia mengetahui
semuanya.
“Hah?
Paman tahu semuanya?” tanyaku heran.
“Ya,
Amel yang menceritakan semua pada paman. Tapi tak apalah. Karena dengan semua
info itu, paman sudah tahu, di mana sebenarnya kamu pantas di tempatkan. Jadi,
mulai minggu depan kamu dan Amel akan paman pindah ke Semarang. Masalah tempat
tinggal sudah paman urus. Rumah kalian yang di sini, biarlah keponakanmu yang
menempatinya. Kebetulan dia masuk di UI, jadi dia membutuhkan tempat tinggal.
Bagaimana?”
“Baiklah
paman. Terima kasih untuk semuanya.” jawabku singkat.
“Iya,
sama-sama. Hmm, apa kamu tidak penasaran dengan pekerjaan apa yang akan paman
berikan padamu?”
“Tidak,
paman. Kalau saya, terserah saja, yang penting halal untuk keluarga saya.”
jawabku sambil tersenyum pada paman.
“Yayaya,
pemikiran yang sangat bijaksana. Tidak rugi kamu memilihnya sebagai suamimu,
Amel.” ucap paman sambil tersenyum pada Amel.
“Hmm,
baiklah, paman. Kami permisi dulu, kami mau mempersiapkan barang-yang yang akan
kami bawa ke Semarang nanti.” ucap Amel pada paman.
“Ya, kebetulan paman juga sebentar lagi akan pergi
ke kamtor, karena ada rapat.” jawab paman.
Kami
pun pulang untuk membereskan semua barang-barang yang akan kami bawa ke
Semarang nantinya. Selama perjalanan pulang, kami hanya diam tanpa berbicara sedikitpun.
***
Dua
minggu sudah berlalu sejak aku menduduki jabatan sebagai direktur utama di
perusahaan milik paman. Selama du minggu ini pun aku tidak pernah mengalami
hambatan dalam pekerjaan.
“Bagaimana?
Mudah, bukan? Inilah yang seharusnya kamu lakukan sejak awal. Tak ada cangkir,
tak ada sendok, tak ada gula, tak ada kopi. Semua itu bukanlah peralatan yang
seharusnya kamu pegang. Benda-benda inilah yang seharusnya berada di hadapanmu.
Ya kan?” ucap paman sambil menunjuk komputer dan kertas-kertas yang berada di
atas meja kerjaku.
“Iya,
paman. Terima kasih atas bantuannya, paman.” ucapku berterima kasih pada paman.
“Ya,
memang sulit mancari pekerjaan dengan bidang kita saat ini, apalagi di kota
besar seperti Jakarta.” ucap paman sambil tersenyum padaku.
Setelah
kami berbincang-bincang kurang lebih setengah jam, paman pamit pulang padaku.
Aku juga bersiap-siap keluar kantor untuk menghadiri rapat di salah satu
perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kami.
***
Satu
tahun kemudian anak pertamaku lahir. Aku pun tidak terbebani masalah biaya
perawatan dan biaya sekolahnya beberapa tahun ke depan, karena penghasilan dari
pekerjaanku yang sekarang dapat menjamin semua itu.
Sejak
saat itu, kehidupanku menjadi sangat indah, tak pernah ada masalah besar yang
menimpa keluarga kami, masalah kecil pun dapat kami hadapi dan selesaikan
dengan ketabahan dan bantuan dari anggota keluarga yang lain. Terlebih lagi
dengan lahirnya buah hatiku, menambah nuansa damai dan keceriaan di dalam rumah
kami.